Dari klinik ke meja cetak
Saya ahli gizi terdaftar. Enam tahun terakhir saya membuka praktik rawat jalan di sebuah klinik kecil di sekitar Kramat, Jakarta Pusat. Sebelum itu, saya menghabiskan tiga tahun di tim nutrisi Rumah Sakit Pondok Indah, kemudian sempat bekerja lepas sebagai konsultan program gizi karyawan untuk beberapa kantor di kawasan Sudirman dan Kuningan.
Chamsport berdiri pada Juni 2025. Pendiriannya tidak dramatis — ia hanya sebuah kelelahan yang perlahan matang. Setiap hari saya mengulang nasihat yang sama di ruang konsultasi. Tentang porsi nasi. Tentang kapan minum air. Tentang mengapa sarapan yang salah membuat siang terasa berat. Klien membayar untuk mendengarnya, mencatat di selembar kertas, dan sering lupa dalam dua minggu. Saya mulai bertanya: mengapa tidak saya tulis sekali saja dengan benar, lalu biarkan siapa saja yang butuh membelinya dalam bentuk buku?
Pendidikan dan kredensial
Saya lulus dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia pada 2018, jurusan Gizi Kesehatan Masyarakat. Pada 2020 saya melanjutkan program sertifikasi Clinical Nutrition Practice di Singapore General Hospital, selama enam bulan, berfokus pada nutrisi klinis untuk populasi Asia Tenggara — yang secara genetik dan pola makannya berbeda dari data yang biasa dipakai literatur Barat.
Saya terdaftar di Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) dengan nomor registrasi 3201-2019-00487, aktif memperpanjang Surat Tanda Registrasi Tenaga Gizi (STRTGz) setiap lima tahun, dan saat ini menjabat sebagai anggota komite kurikulum pendidikan berkelanjutan untuk cabang PERSAGI DKI Jakarta.
Pengalaman sebelum Chamsport
Dua tahun pertama setelah lulus saya menghabiskan di Rumah Sakit Pondok Indah, mengurusi pasien rawat inap dengan kebutuhan diet khusus — pasca operasi bariatrik, pasien dialisis, pasien diabetes dengan komplikasi, dan pasien anak dengan alergi multi-makanan. Di sanalah saya belajar bahwa nutrisi yang benar secara teori dan nutrisi yang bekerja di meja makan asli seringkali dua hal yang berbeda.
Tahun 2021 hingga 2024 saya bekerja sebagai konsultan lepas untuk program kesejahteraan karyawan di beberapa perusahaan swasta di Jakarta. Saya tidak akan menyebut nama mereka di sini, tapi proyek yang paling berarti adalah sebuah audit kantin pabrik yang membuat saya sadar: kebijakan gizi yang paling berdampak justru bukan yang rumit — melainkan yang cukup sederhana untuk dijalankan oleh staf dapur pukul lima pagi.
Yang saya tulis di buku-buku ini
Tiga buku di katalog Chamsport bukan buku gizi klinis. Mereka buku gizi untuk orang biasa yang ingin makan lebih baik tanpa harus jadi pengikut kultus diet. Semua rekomendasi di dalamnya adalah nasihat yang sama persis dengan yang saya berikan ke klien di klinik — dituangkan dalam format yang lebih sistematis dan bisa dibaca ulang tanpa harus membuat janji temu baru.
Yang tidak akan Anda temukan di buku-buku saya: rekomendasi suplemen merek tertentu, janji berat turun dalam berapa hari, atau daftar "makanan super" yang harus dibeli. Saya memandang itu sebagai pengkhianatan profesi.
Nama "Chamsport"
Beberapa orang bertanya asal nama. Jawaban jujurnya: ini kombinasi dua kata yang membawa kenangan — champion dan support. Bukan karena saya ingin pembaca jadi atlet, tapi karena saya percaya setiap orang punya potensi menjadi versi terbaik dirinya sendiri, dengan dukungan gizi yang benar. Dibaca dalam lidah Indonesia, nama itu juga terdengar agak bersahaja — yang saya rasa cocok dengan apa yang sedang kami coba kerjakan.
Mau mulai dari mana?
Kalau Anda baru di dunia nutrisi, mulai dari buku pertama — "Kebiasaan Sehat Sehari-hari." Kalau sudah punya dasar dan ingin langsung ke praktik, "Resep Nusantara Seimbang" atau "Pola Makan 30 Hari" lebih cocok. Ragu? Kirim email ke saya.